"Belum ada pengesahannya, tapi ya ini anaknya. Dulu gue pernah keguguran yang kali ini bakal di keep"
"Ternyata kita berdua emang gak bisa ke orang lain. Gue udah nyoba. Dia juga. Apapun jalurnya, mau ke luar negeri bakalan diusahain. Kita berdua gak masalah kok, tapi loe tau kan social stigma .."
"Itu dia. Jangan kaget ya. Pasti nyari-nyari cewek kan? Gimana pendapat loe?"
"Satu itu cukup. Ini gak direncanain. Ihh..ini loe aja deh yang bawa."
"Dia depresi. Makanya lari ke makanan. Ini aja masih minum obat resep dokter."
"Jadi kamu jalan sama dia? Soalnya kalo dia ditanya langsung gak pernah ngaku."
"Kalo gini terus, bisa HTS lho."
"Mama emang orang yang tidak jujur. Itulah yang saya tidak suka darinya."
"Dia cerita sampe nangis lho..masa gue gak percaya?! Lebih gak percaya lagi itu beliau. Beliau yang kita anggep kaya om."
"Akhir tahun. Kasih kita waktu sampai akhir tahun. Kalau memang gak ada kemajuan, kita ambil jalur terakhir. Lima tahun lebih dari cukup untuk meyakinkan kita semua."
Lemari saya penuh dengan cerita "please don't tell anybody" yang kebanyakan saya lupa. Biarlah menjadi rahasia mereka. Informasi yang terlupakan. Dosa dan pahala ditanggung masing-masing.
No comments:
Post a Comment