Ketika ingin marah sampe sarafnya putus. Ketika ingin nangis sampe keabisan nafas. Ketika ingin teriak sampe gak bersuara. Alter ego seorang bersuara cempreng, cerewet dan cerah ceria.
Sunday, January 31, 2010
Friday, January 29, 2010
Memantapkan Hati Seorang Perempuan
Saya mencetuskan pertanyaan,
" Apa yang bikin loe piilih dia?"Jawaban yang sudah saya prediksi bakalan muncul...
"Enggak tau!"
Dan diapun balik bertanya seperti prediksi saya lagi.
"Kalo lo, kenapa loe mau jalan ma dia?". Yeee..kok jadi saya yang ditanya balik. ![]()
Dan saya-pun menjawab. "apa ya..gak bisa dijelasin tapi intinya..bla..bla.."
Sambil tetap menjelaskan panjang lebar dan sayapun berfikir, what a rubish reason.
Yang saya ingat hanya penekanan pada Tuhan. Mau sok religius walaupun beribadah juga masih enggak bener, tapi etika mengalami kesulitan pasti Tuhan yang dicari. Begitulah sifat manusia. Saya mengembalikan semua sama yang diatas. Waktu itu saya bertanya bukan hanya pada sekitar (orang tua, adek atau kakak, sahabat) tetapi saya juga bertanya pada Sang Pencipta. Dan ternyata Tuhan tidak menjawabnya dengan cepat. Yah ibadah aja jarang, giliran berdoa minta dikabulin cepet.
Kembali saya jelaskan, bukan berarti saya tidak berjuang untuk dia. Bukan berarti saya tidak punya jealousy. Walaupun kadang saya jadi berfikir, kok saya enggak melakukan tindakan seperti salah satu teman saya yang bahkan rela ribut ala kucing sama perempuan yang diduga mendekati pacarnya. Jambak-jambakan rambut dengan horornya, nyakar-nyakar, guling-guling layaknya adegan arena dan juara. Ataupun drama sinetron yang dibumbui adegan air mata dan hujan-hujanan. Daripada saya terjebak dalam kehidupan seperti itu, mending saya jadi sutradaranya aja.
Itu semua berusaha diatur dalam batas normal.
Normal menanyakan kabarnya setiap hari.
Normal mengingatkannya untuk istirahat dan beribadah.
Normal ngecek Facebook dan Twitter. techno physco syndrome.
Normal mengomentari setiap comment dari temen-temen ceweknya dan di update status-nya. Semakin absurd dan abnormal.![]()
Normal dengan seluruh ke'normal'an para perempuan yang mengikuti trend teknologi maju yang perempuan abnormal seperti saya sulit untuk mengikutinya.
anyway...
sahabat saya itu cuma angguk-angguk doang, mungkin karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi dan kita harus memulai suatu aktifitas pada pukul 5 di hari itu. Sambil nguap kesekiankalinya sahabat saya bertanya,
"Jadi apa yang harus gue lakuin biar gak ngerasa masa lalu dia gak ganggu masa depan gue ntar?"
saya jawab..hmmm..lupa saya jawab apa malem itu.![]()
Bagi para perempuan yang bisa percaya sama kata-kata "Jangan salahkan dirimu. Dia sudah memilihmu dan itu yang harus kamu pegang dan perjuangkan. Demi hubungan kalian berdua" Selamat berjuang menjadi orang yang hebat dan may the force be with you.
Thursday, January 21, 2010
aku percaya kamu kok
*Membuka arsip di blog yang lama, ada tulisan yang di publish september 10,2008 seru buat di publish lagi. Dan sepertinya masih relevan untuk diperbincangkan. Bahkan tabungan cerita tentang kepercayaan ini selalu bertambah dalam hitungan kepala. Setiap orang baru yang saya temui, pasti membawa cerita tentang sebuah kepercayaan. Entah itu kepercayaan terhadap rekan kerja, pada pasangan bahkan terhadap Tuhan. Tapi kembali kepada arsip lama ini, ya..silahkan dibaca sendiri saja.
Lain halnya bagi mereka yang masih menjajaki hubungan a.k.a pacaran. Rasa percaya ini dapat menimbulkan bibit-bibit konfilk bersenjata. Bahkan ketika negosiasi tidak berhasil dijalankan maka akan timbul ketegangan pada kedua belah kubu. (waaah..aplikasi sarjana ilmu politik gadungan). Pertanyaan seperti "sms dari siapa?", "ditelpon gak diangkat kenapa?", "pergi sama siapa aja?", sedikit bikin panas kuping mengingat hal tersebut terkadang tidak terlalu penting untuk dibahas. Tapi dari ketidakpentingan itu that relationship jadi berwarna. Kembali ke topik masalah kepercayaan. Rasa percaya sama pasangan sendiri sering on and off. Sama diri sendiri aja terkadang masih gak percaya 100% apalagi kita percaya sama orang lain. Bukan berarti gak boleh percaya 100% sama pasangan, tetapi tetap harus disisakan sedikit rasa tida percaya. Everyone has their own privacy and secret. Jadi gak ada salahnya curiga dikit. Tapi bukan berarti curigaan melulu.
Prinsipnya, kalo pasangan bilang “enggak” ataupun “iya” dipercaya aja. Tapi kalo udah mulai enggak sreg and smell a betrayal, nah terserah aja. Mau diskusi sampe kirim santet dan hal-hal klenik lainnya untuk membalas ketidakjujurannya itu terserah anda.
There’s no white lie. Dan jujur itu pahit.
