Thursday, January 21, 2010

aku percaya kamu kok

judulnya cheesy supaya catchy.*in rhyme.*

Membuka arsip di blog yang lama, ada tulisan yang di publish september 10,2008 seru buat di publish lagi. Dan sepertinya masih relevan untuk diperbincangkan. Bahkan tabungan cerita tentang kepercayaan ini selalu bertambah dalam hitungan kepala. Setiap orang baru yang saya temui, pasti membawa cerita tentang sebuah kepercayaan. Entah itu kepercayaan terhadap rekan kerja, pada pasangan bahkan terhadap Tuhan. Tapi kembali kepada arsip lama ini, ya..silahkan dibaca sendiri saja.

Rasa percaya merupaan landasan dari sebuah hubungan. Kebetulan sahabat saya sudah melangkah ke jenjang pernikahan. Masa-masa mendekati hari H masalah yang bermunculan semakin bertubi-tubi. Sepertinya Tuhan memberikan pop quiz sebelum ujian besar dilaksanakan. Dari hal yang berhubungan dengan acara pernikahan sampai hal tidak penting dijadikan pembahasan yang rumit dan dapat menimbulkan pertengkaran. Sebagai orang diluar ring 1, saya merasa capek dan melihatnya sebagai hal yang seharusnya tidak dibesar-besarkan bagi kedua pasangan. Tetapi bagi mereka hal tersebut harus dibahas lebih detail mengingat hal-hal tersebut menyangut kehidupan mereka berdua kelak (lah sebenernya enggak segini sinetronnya sih..). Terkadang rasa percaya itu hilang, tetapi kembali lagi seiring terucapnya kata maaf. Dan tidak menutup kemungkinan rasa percaya itu semakin menurun. "is he the one?". "does she really my better half?". Pertanyaan tersebut selalu muncul di benak mempelai pria maupun wanita.

Lain halnya bagi mereka yang masih menjajaki hubungan a.k.a pacaran. Rasa percaya ini dapat menimbulkan bibit-bibit konfilk bersenjata. Bahkan ketika negosiasi tidak berhasil dijalankan maka akan timbul ketegangan pada kedua belah kubu. (waaah..aplikasi sarjana ilmu politik gadungan). Pertanyaan seperti "sms dari siapa?", "ditelpon gak diangkat kenapa?", "pergi sama siapa aja?", sedikit bikin panas kuping mengingat hal tersebut terkadang tidak terlalu penting untuk dibahas. Tapi dari ketidakpentingan itu that relationship jadi berwarna. Kembali ke topik masalah kepercayaan. Rasa percaya sama pasangan sendiri sering on and off. Sama diri sendiri aja terkadang masih gak percaya 100% apalagi kita percaya sama orang lain. Bukan berarti gak boleh percaya 100% sama pasangan, tetapi tetap harus disisakan sedikit rasa tida percaya. Everyone has their own privacy and secret. Jadi gak ada salahnya curiga dikit. Tapi bukan berarti curigaan melulu.


Prinsipnya, kalo pasangan bilang “enggak” ataupun “iya” dipercaya aja. Tapi kalo udah mulai enggak sreg and smell a betrayal, nah terserah aja. Mau diskusi sampe kirim santet dan hal-hal klenik lainnya untuk membalas ketidakjujurannya itu terserah anda.


There’s no white lie. Dan jujur itu pahit.

No comments:

Post a Comment

tidak menerima somasi dan tuntutan pidana cyber crime

kebebasan berpendapat yang masih tetap patuh terhadap undang-undang.