Friday, January 29, 2010

Memantapkan Hati Seorang Perempuan

Tengah malam selalu menjadi saat yang tepat untuk membuka mata, hati dan telinga. Setelah ngalor ngidul ngobrol enggak jelas, saya dan sahabat yang menginap di rumah malam itu..ahh prolog yang terlalu lama.

Saya mencetuskan pertanyaan,

" Apa yang bikin loe piilih dia?"

Jawaban yang sudah saya prediksi bakalan muncul...

"Enggak tau!"

Dan diapun balik bertanya seperti prediksi saya lagi.

"Kalo lo, kenapa loe mau jalan ma dia?". Yeee..kok jadi saya yang ditanya balik.

Dan saya-pun menjawab. "apa ya..gak bisa dijelasin tapi intinya..bla..bla.."

Sambil tetap menjelaskan panjang lebar dan sayapun berfikir, what a rubish reason.

Yang saya ingat hanya penekanan pada Tuhan. Mau sok religius walaupun beribadah juga masih enggak bener, tapi etika mengalami kesulitan pasti Tuhan yang dicari. Begitulah sifat manusia. Saya mengembalikan semua sama yang diatas. Waktu itu saya bertanya bukan hanya pada sekitar (orang tua, adek atau kakak, sahabat) tetapi saya juga bertanya pada Sang Pencipta. Dan ternyata Tuhan tidak menjawabnya dengan cepat. Yah ibadah aja jarang, giliran berdoa minta dikabulin cepet.

Kembali saya jelaskan, bukan berarti saya tidak berjuang untuk dia. Bukan berarti saya tidak punya jealousy. Walaupun kadang saya jadi berfikir, kok saya enggak melakukan tindakan seperti salah satu teman saya yang bahkan rela ribut ala kucing sama perempuan yang diduga mendekati pacarnya. Jambak-jambakan rambut dengan horornya, nyakar-nyakar, guling-guling layaknya adegan arena dan juara. Ataupun drama sinetron yang dibumbui adegan air mata dan hujan-hujanan. Daripada saya terjebak dalam kehidupan seperti itu, mending saya jadi sutradaranya aja.

Itu semua berusaha diatur dalam batas normal.

Normal menanyakan kabarnya setiap hari.

Normal mengingatkannya untuk istirahat dan beribadah.

Normal ngecek Facebook dan Twitter. techno physco syndrome.

Normal mengomentari setiap comment dari temen-temen ceweknya dan di update status-nya. Semakin absurd dan abnormal.

Normal dengan seluruh ke'normal'an para perempuan yang mengikuti trend teknologi maju yang perempuan abnormal seperti saya sulit untuk mengikutinya.

anyway...

sahabat saya itu cuma angguk-angguk doang, mungkin karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi dan kita harus memulai suatu aktifitas pada pukul 5 di hari itu. Sambil nguap kesekiankalinya sahabat saya bertanya,

"Jadi apa yang harus gue lakuin biar gak ngerasa masa lalu dia gak ganggu masa depan gue ntar?"

saya jawab..hmmm..lupa saya jawab apa malem itu.

Bagi para perempuan yang bisa percaya sama kata-kata "Jangan salahkan dirimu. Dia sudah memilihmu dan itu yang harus kamu pegang dan perjuangkan. Demi hubungan kalian berdua" Selamat berjuang menjadi orang yang hebat dan may the force be with you.


No comments:

Post a Comment

tidak menerima somasi dan tuntutan pidana cyber crime

kebebasan berpendapat yang masih tetap patuh terhadap undang-undang.