Hanya dengan mendengarkan kita bisa memahami.
Tagline yang saya pinjam dari sebuah TVC perusahaan asuransi ternama.
Tuhan sangat sayang sama saya, bahkan saya diberi pelajaran tentang sepinya hidup dari sepupu saya yang tuna rungu. Sering sekali terjadi kesalahpahaman. Tetapi dia bisa
survive hidup walaupun sering memancing emosi semua orang karena kurang sabar memberikan informasi terhadapnya.
Cukup cerita seriusnya, kembali ke
tagline TVC tadi. Paling cespleng tu ya emang
mendengarkan. Bukan membaca. Dapat dilihat hobi orang kita tu nonton dan dengerin gosip ketimbang membaca buku. Sayangnya ini tidak diterapkan dalam menjalin hubungan dengan sesama
homo sapiens. Euforia
Facebook dan
Twitter yang paling
hits banget (sisanya bisa diliat
disini), semua orang jadi lebih doyan membaca
status updates dan
tweet orang lalu menyimpulkannya sendiri. Apalagi yang emang doyan banget gonta ganti
status updates-sampe ada kecoa di kamar mandi pun di
tweet-, semakin sering ganti berarti semakin eksis. Bahkan teman saya pernah cerita, kalo ada waktu-waktu tertentu buat
nge-updates status biar banyak yang komen.
Segitu hausnya orang-orang kita sama eksistensi.
Kebetulan
friendlist saya lebih banyak temen-temen dari belahan dunia lain,
(bukan sok atau gaya2an, tpi emang saya bikin account itu untuk keep in touch sama mereka) dan saya tidak melihat
updates status yg tiap menit ganti kaya temen-temen saya di sini.
gak semua temen domestik saya updates status pertarikan napas juga kok. dan juga sebaliknya.
Kata yang dibatasi 140 karakter ataupun status updates yang tertulis adalah kebebasan dan hak segala bangsa. Tapi saya justru merasa terjajah dengan adanya itu.Saya lebih menghargai mereka yang mengungkapan
"what's on your mind?",
"what are you doing?",
"what's happening?",
"share a status message", etc melalui tulisan yang ada di personal blog. Soalnya kalo saya perhatiin, hasil dari
posting status dari empunya akun dan tek-tok komen-nya, itu bisa jadi paragraf yang baik dan informatif. Nah kenapa harus memunculkan satu kalimat yang menimbulkan kontroversi?
Again,
segitu hauskan sang pemilik akun akan eksistensi? Mengapa sang pemilik akun tidak memberikan
tweet yang informatif tanpa membawa bendera paham pribadi ataupun cerminan diri? Lagi-lagi saya menyimpulkan
apakah itu upaya mendapatkan perhatian lebih dari followers?Beda lagi kalo itu merupakan
fanspage, info dari media elektronik dan apapun itu yang memanfaatkan situs jejaring sosial. Mereka jelas harus memberikan
updates status yang
exaggerating. Dan secara
wise mereka tetep ngasih
link untuk membaca infonya lebih lanjut.
Bagi saya yang juga memiliki berbagai akun di beberapa situs jejaring sosial, bermanfaat banget buat
keep in touch sama mereka yang tak terjangkau sama pulsa telpon. Kalo ternyata aplikasinya di tambah dengan
"what are you doing right now?" ya sah-sah aja asalkan bukan
updates dengan frase yang kontroversial.
sering kan baca updates status yang begitu?!.okelahkalobegitu..kita main-main kata.
Saya membaca status updates yang provokatif akan saya telusuri dengan mendengarkan cerita yang lebih jelas dari sang pemilik akun baru saya akan memahami maksudnya.
coba kalo kita acak-acak kalimat diatas hanya dengan menyisipkan kata
tidak di satu bagian.
Saya membaca status updates yang provokatif//tidak akan saya telusuri dengan mendengarkan cerita yang lebih jelas dari sang pemilik akun//saya akan memahami maksudnya. (menarik kesimpulan sendiri. berasumsi. berprasangka yang tidak-tidak. sok ngerti bin paham sama maksudnya)
coba kita acak-acak lagi kalimatnya dengan menyisipkan kata
tidak di beberapa bagian.
Saya membaca
status updates yang provokatif//
tidak akan saya telusuri dengan mendengarkan cerita yang lebih jelas dari sang pemilik akun//saya
tidak akan memahami maksudnya.
(biasa aja. gak penting. walaupun tetep kemungkinan untuk timbul prasangka yang negatif. Bisa juga positif. tergantung seberapa provokatif. hanya orang tolol yang gak menelusuri-gak paham tapi berani berkesimpulan)
coba kita acak-acak lagi kalimatnya. Tetap menyisipkan kata
tidak dan kali ini di semua pemenggalannya.
Saya tidak membaca status updates yang provokatif//tidak akan saya telusuri dengan mendengarkan cerita yang lebih jelas dari sang pemilik akun//saya tidak akan memahami maksudnya. (dari pemenggalan pertama, sudah meruntuhkan kalimat di pemenggalan berikutnya.)
Ada
print-ads yang sangat menarik ketika saya membuat
draft tulisan ini. Sebuah upaya Sony Ericsson menjual produk telepon genggam terbarunya.
It's not a smartphone. It's not a QWERTY phone. It's not a camera phone. It's purely a phone. Pureness from Sony Ericsson. XPERIA Talk.Text.Time Dan ternyata mereka punya
campaign yang menurut saya simple tapi tegas.