Saturday, March 27, 2010

Lalu lintas senja


Menutup hari. Tapi bisa jadi ini membuka hari.

Senja

Berjibaku dengan hiruk pikuknya ibukota sore itu. Kembali berputar-putar menghantui saya, mengapa tak pernah kau sedikitpun bersahabat denganku wahai JAKARTA!

Saya hanyalah anak dusun yang terkesima dan benci akan keangkuhanmu.

Tuesday, March 23, 2010

Percakapan dan Harapannya

Sambil menyodorkan tangan, "nama saya Pak Taryono." Mengucapkan Bismillah dan dimulailah perjalanan memecah kermaian saat berbuka puasa.

Percakapan itu dimulai ketika bapak berumu 35 tahun itu mengucapkan Alhamdulillah setelah mengetahui saya adalah seorang sarjana. Dia juga berharap bahwa anak-anaknya kelak menjadi sarjana seperti saya. Dia dan mantan pacar yang sudah diperistrinya mempunyai tiga orang anak. Dan sedang menanti yang keempat. Si sulung mendapatkan beasiswa di salah satu politeknik ternama di kota ini. Anak perempuan pertamanya yang mirip bintang film mandarin masih duduk di bangku SMP. Dan yang paling bungsu, favorit saya, masih berumur 3 tahun.


Perbincangan ngalor ngidul untuk menemani perjalanan pulang dari Sin City. Dia bertanya apa pekerjaan yang saya harapan. Bahkan saya tidak tahu saya mau apa pak. Saya hanya mengikuti mainstream yang melakukan interview pekerjaan ketika mereka lulus kuliah. Dia menyetujui saya untuk kembali ke bangku kuliah selagi masih ada semangat dan rezeki. Sebab baginya pendidikan nomor satu. Layakny orang tua pada umumnya, beliau mengharapkan bahwa putra puterinya bisa mengenyam pendidikan dan menjadi orang yang sukses dan berguna. Dia sendiri tidak lulus SD. Hanya berbekal hobi menggambar, mereka yang pernah dia asuh bahkan sudah menjadi arsitek di negeri paman Obama. Ketika dia menceritakan bagaimana dia bertemu mantan pacarnya itu, "Semua sudah ada yang mengatur neng." begitu ujarnya. Dia menanyakan tentang saya. "Pacar saya seorang pilot pak", jawab saya. Saya yakin persepsi pilot menurut saya dan dia berbeda. Saya hanya mengiyakan bahwa intensitas kita bertemu sangatlah bisa dihitung jari.

Walaupun hanya seorang supir, dia banyak berkenalan dengan selebritis. Pembawaan beliau yang gemar bercerita membuat para selebritis itu nyaman berbagi cerita tentang hidup ke-artisan-nya. Presenter ternama, penyanyi terkenal, bahkan grup band papan atas Indonesia pernah diantarkan dengan selamat ke kota ini. Tanda tangan dan tiket nonton premier gratis-pun sudah pernah dinikmati oleh beliau sekeluarga. Setiap minggu selama September ini selalu ada wajah-wajah terkenal yang berkendara dengannya. Minggu ini, saya bukanlah wajah yang sedang ataupun akan menghiasi layar kaca anda semua.

Beliau tetap bertugas ketika saya terlelap tidur selama setengah perjalanan. "Semoga sukses ya neng. Semoga kita bisa ketemu lain waktu." Kata perpisahan yang terucap darinya ketika saya harus turun untuk berganti angkutan.

Bongkar draft tahun 2008 eh nemu catetan diatas. Tulisannya sih fiksi walaupun karakter Pak Taryono kisah nyata.

Percakapan dengan orang seperti Pak Taryono sedang saya cari kembali gregetnya. Setelah berkutat dengan buku baca dan kamera, saya berharap untuk dapat bertemu orang-orang yang netral dan mengungkapkan pandangan mereka terhadap hidup. Hal tersebut saya lakukan hanyalah sekedar untuk memberi suplemen jiwa.

Menghabiskan weekend bersama teman-teman untuk clubbing ataupun kongkow di coffee shop sudah menjadi camilan ketika lapar akan hiburan ditengah gegap gempitanya ibukota. Menikmati indahnya resital balet dengan komposisi Resphigi mengiringi setiap plie para balerina juga bisa dilakukan untuk menyeimbangkan otak. Tetapi merekam pembicaraan melalui diskusi yang diiringi tawa bahkan air mata jarang bisa saya dapatkan. Padahal itulah vitamin jiwa yang mujarab untuk memperkuat diri menjalani hidup. Mereka yang notabene memiliki kehidupan dibawah yang sudah saya miliki, membuat saya menghargai hidup jauh lebih baik. Pertemuan kita pun seringali berlandaskan suatu kontrak kerja. Short period of time with unbelievable stories. Disitulah saya belajar bahwa kualitas itu tidak bisa diukur dengan kuantitas.

Semakin mempercayai akan Laws of Attraction. Saya sempet lost contact dengan Pak Taryono. Awal maret saya bahkan mencarinya di tempat dia bekerja, ternyata beliau sudah resign. Nomor telpon beliau-pun hilang dari phonebook saya. Dan di akhir maret ini, tring, beliau sms menanyakan kabar saya.

Friday, March 12, 2010

Baca, Dengar, Paham

Hanya dengan mendengarkan kita bisa memahami. Tagline yang saya pinjam dari sebuah TVC perusahaan asuransi ternama.

Tuhan sangat sayang sama saya, bahkan saya diberi pelajaran tentang sepinya hidup dari sepupu saya yang tuna rungu. Sering sekali terjadi kesalahpahaman. Tetapi dia bisa survive hidup walaupun sering memancing emosi semua orang karena kurang sabar memberikan informasi terhadapnya.

Cukup cerita seriusnya, kembali ke tagline TVC tadi. Paling cespleng tu ya emang mendengarkan. Bukan membaca. Dapat dilihat hobi orang kita tu nonton dan dengerin gosip ketimbang membaca buku. Sayangnya ini tidak diterapkan dalam menjalin hubungan dengan sesama homo sapiens. Euforia Facebook dan Twitter yang paling hits banget (sisanya bisa diliat disini), semua orang jadi lebih doyan membaca status updates dan tweet orang lalu menyimpulkannya sendiri. Apalagi yang emang doyan banget gonta ganti status updates-sampe ada kecoa di kamar mandi pun di tweet-, semakin sering ganti berarti semakin eksis. Bahkan teman saya pernah cerita, kalo ada waktu-waktu tertentu buat nge-updates status biar banyak yang komen. Segitu hausnya orang-orang kita sama eksistensi.

Kebetulan friendlist saya lebih banyak temen-temen dari belahan dunia lain, (bukan sok atau gaya2an, tpi emang saya bikin account itu untuk keep in touch sama mereka) dan saya tidak melihat updates status yg tiap menit ganti kaya temen-temen saya di sini. gak semua temen domestik saya updates status pertarikan napas juga kok. dan juga sebaliknya.

Kata yang dibatasi 140 karakter ataupun status updates yang tertulis adalah kebebasan dan hak segala bangsa. Tapi saya justru merasa terjajah dengan adanya itu.


Saya lebih menghargai mereka yang mengungkapan "what's on your mind?", "what are you doing?", "what's happening?", "share a status message", etc melalui tulisan yang ada di personal blog. Soalnya kalo saya perhatiin, hasil dari posting status dari empunya akun dan tek-tok komen-nya, itu bisa jadi paragraf yang baik dan informatif. Nah kenapa harus memunculkan satu kalimat yang menimbulkan kontroversi? Again, segitu hauskan sang pemilik akun akan eksistensi? Mengapa sang pemilik akun tidak memberikan tweet yang informatif tanpa membawa bendera paham pribadi ataupun cerminan diri? Lagi-lagi saya menyimpulkan apakah itu upaya mendapatkan perhatian lebih dari followers?

Beda lagi kalo itu merupakan fanspage, info dari media elektronik dan apapun itu yang memanfaatkan situs jejaring sosial. Mereka jelas harus memberikan updates status yang exaggerating. Dan secara wise mereka tetep ngasih link untuk membaca infonya lebih lanjut.

Bagi saya yang juga memiliki berbagai akun di beberapa situs jejaring sosial, bermanfaat banget buat keep in touch sama mereka yang tak terjangkau sama pulsa telpon. Kalo ternyata aplikasinya di tambah dengan "what are you doing right now?" ya sah-sah aja asalkan bukan updates dengan frase yang kontroversial. sering kan baca updates status yang begitu?!.

okelahkalobegitu..kita main-main kata.

Saya membaca status updates yang provokatif akan saya telusuri dengan mendengarkan cerita yang lebih jelas dari sang pemilik akun baru saya akan memahami maksudnya.

coba kalo kita acak-acak kalimat diatas hanya dengan menyisipkan kata tidak di satu bagian.

Saya membaca status updates yang provokatif//tidak akan saya telusuri dengan mendengarkan cerita yang lebih jelas dari sang pemilik akun//saya akan memahami maksudnya. (menarik kesimpulan sendiri. berasumsi. berprasangka yang tidak-tidak. sok ngerti bin paham sama maksudnya)

coba kita acak-acak lagi kalimatnya dengan menyisipkan kata tidak di beberapa bagian.

Saya membaca status updates yang provokatif//tidak akan saya telusuri dengan mendengarkan cerita yang lebih jelas dari sang pemilik akun//saya tidak akan memahami maksudnya. (biasa aja. gak penting. walaupun tetep kemungkinan untuk timbul prasangka yang negatif. Bisa juga positif. tergantung seberapa provokatif. hanya orang tolol yang gak menelusuri-gak paham tapi berani berkesimpulan)

coba kita acak-acak lagi kalimatnya. Tetap menyisipkan kata tidak dan kali ini di semua pemenggalannya.

Saya tidak membaca status updates yang provokatif//tidak akan saya telusuri dengan mendengarkan cerita yang lebih jelas dari sang pemilik akun//saya tidak akan memahami maksudnya. (dari pemenggalan pertama, sudah meruntuhkan kalimat di pemenggalan berikutnya.)

Ada print-ads yang sangat menarik ketika saya membuat draft tulisan ini. Sebuah upaya Sony Ericsson menjual produk telepon genggam terbarunya. It's not a smartphone. It's not a QWERTY phone. It's not a camera phone. It's purely a phone. Pureness from Sony Ericsson. XPERIA Talk.Text.Time Dan ternyata mereka punya campaign yang menurut saya simple tapi tegas.




Sunday, March 7, 2010

Mari Maret

Memutar otak...di Maret ini apa ya yang menarik??Yang pasti satu bulan sebelum sahabat saya melaksanakan pernikahan.

Mencari-cari long weekend demi oase yang bernama liburaaaann. Yang ternyata tidak ada di kalender.

Kuartal pertama 2010 akan berakhir dalam hitungan minggu. Jadi tinggal 3 kuartal lagi menuju 2011.

Marching for March

tidak menerima somasi dan tuntutan pidana cyber crime

kebebasan berpendapat yang masih tetap patuh terhadap undang-undang.