Friday, March 12, 2010

Baca, Dengar, Paham

Hanya dengan mendengarkan kita bisa memahami. Tagline yang saya pinjam dari sebuah TVC perusahaan asuransi ternama.

Tuhan sangat sayang sama saya, bahkan saya diberi pelajaran tentang sepinya hidup dari sepupu saya yang tuna rungu. Sering sekali terjadi kesalahpahaman. Tetapi dia bisa survive hidup walaupun sering memancing emosi semua orang karena kurang sabar memberikan informasi terhadapnya.

Cukup cerita seriusnya, kembali ke tagline TVC tadi. Paling cespleng tu ya emang mendengarkan. Bukan membaca. Dapat dilihat hobi orang kita tu nonton dan dengerin gosip ketimbang membaca buku. Sayangnya ini tidak diterapkan dalam menjalin hubungan dengan sesama homo sapiens. Euforia Facebook dan Twitter yang paling hits banget (sisanya bisa diliat disini), semua orang jadi lebih doyan membaca status updates dan tweet orang lalu menyimpulkannya sendiri. Apalagi yang emang doyan banget gonta ganti status updates-sampe ada kecoa di kamar mandi pun di tweet-, semakin sering ganti berarti semakin eksis. Bahkan teman saya pernah cerita, kalo ada waktu-waktu tertentu buat nge-updates status biar banyak yang komen. Segitu hausnya orang-orang kita sama eksistensi.

Kebetulan friendlist saya lebih banyak temen-temen dari belahan dunia lain, (bukan sok atau gaya2an, tpi emang saya bikin account itu untuk keep in touch sama mereka) dan saya tidak melihat updates status yg tiap menit ganti kaya temen-temen saya di sini. gak semua temen domestik saya updates status pertarikan napas juga kok. dan juga sebaliknya.

Kata yang dibatasi 140 karakter ataupun status updates yang tertulis adalah kebebasan dan hak segala bangsa. Tapi saya justru merasa terjajah dengan adanya itu.


Saya lebih menghargai mereka yang mengungkapan "what's on your mind?", "what are you doing?", "what's happening?", "share a status message", etc melalui tulisan yang ada di personal blog. Soalnya kalo saya perhatiin, hasil dari posting status dari empunya akun dan tek-tok komen-nya, itu bisa jadi paragraf yang baik dan informatif. Nah kenapa harus memunculkan satu kalimat yang menimbulkan kontroversi? Again, segitu hauskan sang pemilik akun akan eksistensi? Mengapa sang pemilik akun tidak memberikan tweet yang informatif tanpa membawa bendera paham pribadi ataupun cerminan diri? Lagi-lagi saya menyimpulkan apakah itu upaya mendapatkan perhatian lebih dari followers?

Beda lagi kalo itu merupakan fanspage, info dari media elektronik dan apapun itu yang memanfaatkan situs jejaring sosial. Mereka jelas harus memberikan updates status yang exaggerating. Dan secara wise mereka tetep ngasih link untuk membaca infonya lebih lanjut.

Bagi saya yang juga memiliki berbagai akun di beberapa situs jejaring sosial, bermanfaat banget buat keep in touch sama mereka yang tak terjangkau sama pulsa telpon. Kalo ternyata aplikasinya di tambah dengan "what are you doing right now?" ya sah-sah aja asalkan bukan updates dengan frase yang kontroversial. sering kan baca updates status yang begitu?!.

okelahkalobegitu..kita main-main kata.

Saya membaca status updates yang provokatif akan saya telusuri dengan mendengarkan cerita yang lebih jelas dari sang pemilik akun baru saya akan memahami maksudnya.

coba kalo kita acak-acak kalimat diatas hanya dengan menyisipkan kata tidak di satu bagian.

Saya membaca status updates yang provokatif//tidak akan saya telusuri dengan mendengarkan cerita yang lebih jelas dari sang pemilik akun//saya akan memahami maksudnya. (menarik kesimpulan sendiri. berasumsi. berprasangka yang tidak-tidak. sok ngerti bin paham sama maksudnya)

coba kita acak-acak lagi kalimatnya dengan menyisipkan kata tidak di beberapa bagian.

Saya membaca status updates yang provokatif//tidak akan saya telusuri dengan mendengarkan cerita yang lebih jelas dari sang pemilik akun//saya tidak akan memahami maksudnya. (biasa aja. gak penting. walaupun tetep kemungkinan untuk timbul prasangka yang negatif. Bisa juga positif. tergantung seberapa provokatif. hanya orang tolol yang gak menelusuri-gak paham tapi berani berkesimpulan)

coba kita acak-acak lagi kalimatnya. Tetap menyisipkan kata tidak dan kali ini di semua pemenggalannya.

Saya tidak membaca status updates yang provokatif//tidak akan saya telusuri dengan mendengarkan cerita yang lebih jelas dari sang pemilik akun//saya tidak akan memahami maksudnya. (dari pemenggalan pertama, sudah meruntuhkan kalimat di pemenggalan berikutnya.)

Ada print-ads yang sangat menarik ketika saya membuat draft tulisan ini. Sebuah upaya Sony Ericsson menjual produk telepon genggam terbarunya. It's not a smartphone. It's not a QWERTY phone. It's not a camera phone. It's purely a phone. Pureness from Sony Ericsson. XPERIA Talk.Text.Time Dan ternyata mereka punya campaign yang menurut saya simple tapi tegas.




2 comments:

  1. good posting mba..
    coba buat notes di fesbuk deh, pasti banyak yg 'kesindir' hehehehe

    anyways, about status updates.. well, kayanya jejaring sosial yg ada tuh cenderung memprovokasi penggunanya untuk update status frequently deh, yg gak penting sekalipun.. apalagi dengan adanya twitter, itu jd semacam media buat org2 untuk type and inform what's on their mind anytime, anywhere.. so hal-hal ga penting jadi lumrah deh, hehehe. Beda bgt emang sm orang2 bule.. mungkin secara mentally, update status ga penting buat mereka.. 'who cares of what i'm doing?', mungkin itu pikirnya, hehe

    ReplyDelete
  2. hehe..notes?secara temen gue dari planet smua ya, ni harus di translate ya ke bahasa linggis dong?pe-er abisss!!tapi kalo dirimu mau share this on twitter or FB,silahken lho.

    people cares if your updates on marvelous things, -positive one of corz- not on their personal life.

    :mari 'mencerca' secara beradab:

    ReplyDelete

tidak menerima somasi dan tuntutan pidana cyber crime

kebebasan berpendapat yang masih tetap patuh terhadap undang-undang.