Tuesday, March 23, 2010

Percakapan dan Harapannya

Sambil menyodorkan tangan, "nama saya Pak Taryono." Mengucapkan Bismillah dan dimulailah perjalanan memecah kermaian saat berbuka puasa.

Percakapan itu dimulai ketika bapak berumu 35 tahun itu mengucapkan Alhamdulillah setelah mengetahui saya adalah seorang sarjana. Dia juga berharap bahwa anak-anaknya kelak menjadi sarjana seperti saya. Dia dan mantan pacar yang sudah diperistrinya mempunyai tiga orang anak. Dan sedang menanti yang keempat. Si sulung mendapatkan beasiswa di salah satu politeknik ternama di kota ini. Anak perempuan pertamanya yang mirip bintang film mandarin masih duduk di bangku SMP. Dan yang paling bungsu, favorit saya, masih berumur 3 tahun.


Perbincangan ngalor ngidul untuk menemani perjalanan pulang dari Sin City. Dia bertanya apa pekerjaan yang saya harapan. Bahkan saya tidak tahu saya mau apa pak. Saya hanya mengikuti mainstream yang melakukan interview pekerjaan ketika mereka lulus kuliah. Dia menyetujui saya untuk kembali ke bangku kuliah selagi masih ada semangat dan rezeki. Sebab baginya pendidikan nomor satu. Layakny orang tua pada umumnya, beliau mengharapkan bahwa putra puterinya bisa mengenyam pendidikan dan menjadi orang yang sukses dan berguna. Dia sendiri tidak lulus SD. Hanya berbekal hobi menggambar, mereka yang pernah dia asuh bahkan sudah menjadi arsitek di negeri paman Obama. Ketika dia menceritakan bagaimana dia bertemu mantan pacarnya itu, "Semua sudah ada yang mengatur neng." begitu ujarnya. Dia menanyakan tentang saya. "Pacar saya seorang pilot pak", jawab saya. Saya yakin persepsi pilot menurut saya dan dia berbeda. Saya hanya mengiyakan bahwa intensitas kita bertemu sangatlah bisa dihitung jari.

Walaupun hanya seorang supir, dia banyak berkenalan dengan selebritis. Pembawaan beliau yang gemar bercerita membuat para selebritis itu nyaman berbagi cerita tentang hidup ke-artisan-nya. Presenter ternama, penyanyi terkenal, bahkan grup band papan atas Indonesia pernah diantarkan dengan selamat ke kota ini. Tanda tangan dan tiket nonton premier gratis-pun sudah pernah dinikmati oleh beliau sekeluarga. Setiap minggu selama September ini selalu ada wajah-wajah terkenal yang berkendara dengannya. Minggu ini, saya bukanlah wajah yang sedang ataupun akan menghiasi layar kaca anda semua.

Beliau tetap bertugas ketika saya terlelap tidur selama setengah perjalanan. "Semoga sukses ya neng. Semoga kita bisa ketemu lain waktu." Kata perpisahan yang terucap darinya ketika saya harus turun untuk berganti angkutan.

Bongkar draft tahun 2008 eh nemu catetan diatas. Tulisannya sih fiksi walaupun karakter Pak Taryono kisah nyata.

Percakapan dengan orang seperti Pak Taryono sedang saya cari kembali gregetnya. Setelah berkutat dengan buku baca dan kamera, saya berharap untuk dapat bertemu orang-orang yang netral dan mengungkapkan pandangan mereka terhadap hidup. Hal tersebut saya lakukan hanyalah sekedar untuk memberi suplemen jiwa.

Menghabiskan weekend bersama teman-teman untuk clubbing ataupun kongkow di coffee shop sudah menjadi camilan ketika lapar akan hiburan ditengah gegap gempitanya ibukota. Menikmati indahnya resital balet dengan komposisi Resphigi mengiringi setiap plie para balerina juga bisa dilakukan untuk menyeimbangkan otak. Tetapi merekam pembicaraan melalui diskusi yang diiringi tawa bahkan air mata jarang bisa saya dapatkan. Padahal itulah vitamin jiwa yang mujarab untuk memperkuat diri menjalani hidup. Mereka yang notabene memiliki kehidupan dibawah yang sudah saya miliki, membuat saya menghargai hidup jauh lebih baik. Pertemuan kita pun seringali berlandaskan suatu kontrak kerja. Short period of time with unbelievable stories. Disitulah saya belajar bahwa kualitas itu tidak bisa diukur dengan kuantitas.

Semakin mempercayai akan Laws of Attraction. Saya sempet lost contact dengan Pak Taryono. Awal maret saya bahkan mencarinya di tempat dia bekerja, ternyata beliau sudah resign. Nomor telpon beliau-pun hilang dari phonebook saya. Dan di akhir maret ini, tring, beliau sms menanyakan kabar saya.

No comments:

Post a Comment

tidak menerima somasi dan tuntutan pidana cyber crime

kebebasan berpendapat yang masih tetap patuh terhadap undang-undang.