Wednesday, April 14, 2010

Tameng Penanda Kekuasaan

Siang itu panas. Panas bikin orang gampang emosi. Sama kaya saya yang melototin tv liat breaking news pembongkaran makam mbah priok. Saya bukan mau mengangkat tentang siapa mbah priok, ataupun menganalisa mengapa pemerintah DKI Jakarta Utara ingin menggusur wilayah makam yang banyak cerita mistisnya..ahh...Saya cuma emosi liat orang-orang itu ricuh.

Orang-orang sepertinya membutuhkan penyaluran emosi. Semua peralatan yang ada di tangan diakumulasikan dengan kebencian dari dalam hati entah terhadap apa. Apakah hidup mereka terancam?Apakah ini bentuk rasa solidaritas? Apakah mereka benci terhadap aparat pemerintah? Sepertinya kondisi bentrokan itu dimanfaatkan sebagai sarana mencoba jimat anti mati, helm SNI terbaru anti bocor terkena lemparan batu bahkan celurit yang seharusnya bisa menyambung hidup diajadiin alat untuk menghabisi hidup orang.

Seliweran ngeliat orang-orang berseragam saya merasa terdapat arogansi dari diri mereka. Siapapun itu dalam kondisi apapun, seragam yang melekat pada tubuh itu cuma dijadiin tameng buat nunjukkin kekuasaan.

Saya juga pernah merasakan memakai seragam. Waktu sekolah dulu, 12 tahun saya pakai seragam. Disitu aja udah kerasa stratanya. Yang pake seragam putih abu-abu (atau warna apapun menurut almamater masing-masing) itu adalah senior. Dialah yang berkuasa diantara semua level pendidikan. Untungnya kuliah bajunya bebas. Padahal walaupun tidak berseragam warna apapun, inilah maha-nya siswa. Makanya kuliah dinamakan Mahasiswa.

Seragam yang melekat di para pegawai-pun juga menunjukkan kekuasaan. Sales Promotion Girl ataupun SPB juga berkuasa terhadap apapun yang dijajakannya. Mereka lah yang ngerti sama product knowledge barang ataupun jasa yang mereka jajakan. Seragam yang dipakai pegawai pemerintah juga menunjukkan merekalah orang berkuasa di departemennya masing-masing. Begitu juga dengan seragam para wartawan. Seperti yang kita ketahui banyak stasiun televisi nasional yang grooming para pekerjanya dengan seragam yang representatif. Lebih enak dipandang kan kalau para reporter berbaju rapi sesuai dengan media mana dia bernaung. Disini juga kita lihat merekalah yang punya kuasa sebagai pembuat berita.

Semakin menggemaskan melihat seragam petugas keamanan. Cuma dilengkapi emblem dan sejumlah senjata mereka bisa menunjukkan kekuasaan setinggi-tingginya. Itu cuma atribut. Coba kalo semua itu dipretelin, dia hanya seorang manusia biasa. Manusia yang punya sifat kehewanan yang biadab gebuk-gebukin orang.

Siswa SMP tanpa seragam putih biru, ya dia hanyalah seorang anak singkong yang belum menginjak 17 tahun. Koki restaurant tanpa seragam bekerjanya hanyalah orang biasa yang memiliki pengetahuan lebih di bidang kuliner. Apalagi petugas keamanan, tanpa semua atribut itu mereka semua hanya manusia yang mencari nafkah dengan menegakkan keadilan. seharusnya.

Seragam itu hanyalah tameng. Apa kita pernah tau Tuhan itu pake seragam apa? Tapi Dia yang berkuasa dengan hidup kita.

No comments:

Post a Comment

tidak menerima somasi dan tuntutan pidana cyber crime

kebebasan berpendapat yang masih tetap patuh terhadap undang-undang.